Kontraksi GDP Picu Kejatuhan Sterling
Poundsterling kembali diperdagangkan
melemah versus Dollar AS untuk hari ke-2 berturutturut
pada hari Rabu pasca sebuah data secara tak
terduga menunjukkan ekonomi Inggris berkontraksi
lebih parah dari yang diperkirakan sebelumnya
sepanjang kuartal terakhir tahun lalu. mengalami
kontraksi lebih dari yang diperkirakan sebelumnya
pada kuartal keempat tahun lalu. Ekonomi Inggris
harus mengalami kontraksi sebesar 0,3% antara bulan
Oktober hingga Desember, lebih buruk dari ekspektasi
penurunan 0,2%. Sementara laju pertumbuhan
ekonomi tahunan hanya mencatat kenaikan 0,5%
setelah tumbuh 0,7% pada periode yang sama tahun
lalu.
“Data tersebut telah menghadirkan
kekecewaan dan menempatkan Sterling di bawah
tekanan kuat,” kata Neil Jones, kepala penjualan
hedge fund Eropa pada Mizuho Corporate Bank Ltd. di
London. “Komentar King pada hari sebelumnya juga
telah menambah elemen dovish baru pada Cable. Apa
pun yang berasal dari pembuat kebijakan yang
mensinyalkan masih terbukanya peluang untuk QE
lanjutan pasti akan berdampak negatif untuk Sterling.”
Repatriasi Marak, Yen Terdongkrak
Apresiasi Yen masih berlanjut pada hari Rabu
seiring para eksportir mulai kembali membeli mata
uang Jepang guna menyesuaikan neraca mereka
menjelang akhir tahun fiskal. Yen juga menuai
dukungan dari pelemahan Greenback yang dipicu
memburuknya data pesanan durable goods AS pada
bulan Februari.
Aksi beli Yen biasanya memang meningkat
pada akhir tahun fiskal karena eksportir Jepang harus
melaporkan neraca keuangan mereka dalam Yen. Dan
hari Rabu menjadi batas waktu untuk transaksi mata
uang yang dilakukan terkait penyesuaian neraca akhir
tahun fiskal pada 31 Maret mendatang. Kendati
demikian, beberapa analis memperkirakan jika Dollar
akan kembali mendominasi Yen pekan depan seiring
meredanya dampak dari aktivitas yang hanya bersifat
musiman ini. “Dalam jangka waktu 2 sampai 3 bulan,
tren penguatan Dollar kemungkinan akan berlanjut
hingga mencapai level 85 terhadap Yen,” kata Geoffrey
Yu, analis mata uang UBS di London.
Saham Global Kian Tenggelamkan Aussie
Dollar Australia kembali bergerak melemah
terhadap rival-rival utamanya pada hari Rabu seiring
masih berlanjutnya penurunan saham global, yang
menggerus permintaan untuk aset berimbal hasil lebih
tinggi. Mata uang yang sering disebut Aussie ini juga
merosot lebih dari 0,7% versus Greenback menjelang
rilis sebuah data yang diperkirakan akan menunjukkan
pertumbuhan kredit perbankan Australia berada pada
laju paling lambat sejak bulan Agustus. Reserve Bank
of Australia dijadwalkan akan melaporkan angka
pertumbuhan kredit swasta pada 30 Maret mendatang,
yang diperkirakan oleh banyak ekonom akan mencatat
kenaikan tahunan 3,3% pada bulan Februari setelah
tumbuh 3,5% pada awal tahun ini.
“Penurunan saham global merupakan katalis
negatif untuk mata uang Pasifik Selatan ini,” kata
Takuya Kawabata, seorang peneliti pada Gaitame.com
Research Institute Ltd. di Tokyo. “Tersisanya
kekhawatiran tentang perlambatan China juga masih membebani dollar Australia.”